Pengertian Tafsir Fiqih, Sejarah, Perbedaan, Karakteristik dan Tokoh

Pengertian Tafsir Fiqih

Tafsir Fiqih adalah corak tafsir yang lebih mengarah kepada pembahasan masalah-masalah fiqhiyyah dan cabang-cabangnya serta membahas perdebatan/perbedaan pendapat seputar pendapat-pendapat imam madzhab. Tafsir fiqhi ini juga dikenal dengan tafsir Ahkam, yaitu tafsir yang lebih berorientasi kepada ayat-ayat hukum dalam al-Qur,an (ayat-ayat ahkam). Tafsir fiqhi lebih populer dengan sebutan tafsir ayat ahkam atau tafsir ahkam karena lebih berorientasi pada ayat-ayat hukum dalam alqur’an.

Sejarah Munculnya Tafsir Fiqih

Para sahabat di masa Rasulullah memahami al Quran dengan “naluri” kearaban mereka. Dan jika terjadi kesulitan dalam memahami sesuatu ayat, mereka kembali kepada Rasulullah dan beliau pun lalu menjelaskannya kepada mereka.

Setelah Rasulullah wafat dan fuqaha sahabat mengendalikan umat dibawah kepemimpinan Khulafa’ Rasyidin serta banyak terjadi persoalan-persoalan yang belum pernah terjadi sebelumnya, maka Quran merupakan tempat kembali mereka untuk mengistimbatkan hukum-hukum syara’ bagi persoalan baru tersebut. Mereka pun sepakat bulat atas hal tersebut. Jarang sekali mereka berselisih pendapat ketika terdapat kontradiksi (dalam lafadz).

Ketika tiba masa empat imam fiqh dan setiap imam membuat dasar-dasar istimbat hukum masing-masing dalam mazhabnya serta bebagai peristiwa semakin banyak dan persoalan-persoalan pun menjadi bercabang-cabang; maka semakin bertambah pula aspek-aspek perbedaan pendapat dalam memahami ayat, hal ini disebabkan perbedaan segi dalalahnya, bukan karena fanatisme terhadap suatu mazhab, melainkan karena setiap ahli fiqih berpegang pada apa yang dipandangnya benar. Karena itu ia tidak memandang dirinya hina jika ia mengetahui kebenaran pada pihak lain, untuk merujuk kepadanya.

Keadaan tetap berjalan demikian sampai datanglah masa taklid dan fanatisme mazhab. Maka pada masa ini aktifitas para pengikut imam hanya terfokus pada penjelasan dan pembelaan mazhab mereka sekalipun untuk ini mereka harus membawa ayat-ayat Quran kepada makna yang lemah dan jauh. Dan sebagai akibatnya maka muncullah “tafsir fiqih” yang khusus membahas ayat-ayat hukum dalam Quran. Di dalamnya fanatisme mazhab terkadang menjadi semakin memuncak dan terkadang pula mereda.

Pengaruh Perbedaan Mazhab Fiqih Dalam Penafsiran

Sebagaimana mafhum bahwa Al-Qur’an adalah kitabullah yang mengandung hukum-hukum syariat yang diturunkan kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasalam. Di antara hukum-hukum syariat tersebut adalah hukum-hukum yang berhubungan dengan ibadah dan muamalah, kedua ruang lingkup hidup tersebut saat ini dikenal dengan istilah fiqh. Pada masa Rasulullah masih hidup, setiap muncul permasalahan keagamaan (fiqh) akan langsung disampaikan kepada beliau, selain itu juga pemahaman para shahabat terhadap bahasa Arab menjadikan permasalahan yang muncul tidak banyak.

Namun setelah beliau wafat permasalahan yang berkenaan dengan hukum-hukum fiqh Islam bermunculan, walaupun ada ijma bahwa segala sesuatu dikemablikan kepada Al-Quran dan Al-Hadits, namun beberapa permasalahan sering kali tidak ditemukan pada keduanya. Dari sinilah muncul tantangan baru bagaimana memahami fiqh Islam dengan pendekatan yang lain, yaitu keahlian mujtahid untuk menggali hukum-hukum dari Al-Qur’an sebagai kitab suci umat Islam dan kepada sunnah RasulNya. Pendekatan yang dilakukan ini disebut dengan ijtihad, yaitu upaya untuk menggali hukum-hukum dari Al-Qur’an dan Al-hadits dengan kekuatan akal dan hati.

Karena ijtihad menjadi jalan keluar maka bermunculanlah para ulama yang berijtihad sesuai dengan ilmu yang dimilikinya. Sehingga bermunculanlah berbagai pendapat yang berbeda. Perbedaan sendiri telah terjadi sejak pada masa para sahabat Nabi. Situasi ini terus berkembang hingga munculnya empat ulama madzhab yang menjadi patokan umum dalam mengambil keputusan hukum oleh sebagian umat Islam. Mereka adalah Imam Hanafi, Imam Syafi’i, imam Maliki.

Dengan berkembangnya pendapat-pendapat madzhab tersebut maka berkembang pula corak penafsiran yang sesuai dengan madzhabnya masing-masing. Sehingga muncul tafsir Al-Qur’an dengan corak fiqhi madzhab Hanafi, Syafi’i, Maliki dan Hanbali.

Karakteristik

Sebagaiman yang telah kita ketahui bahwa tafsir Fiqh adalah tafsir yang membahas tentang hukum-hukum dalam Islam. Maka, karakteristik dari tafsir Fiqh ini adalah memfokuskan perhatian kepada aspek hukum fiqh. Karena itu para mufasir corak fiqhi akan selalu menafsirkan setiap ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan masalah-masalah hukum Islam. Para mufasir akan banyak menafsirkan ayat-ayat ahkam, yaitu ayat-ayat yang berkaitan dengan hukum Islam dalam Al-Qur’an.

Tokoh-tokoh dalam Tafsir Fiqh

1. Tafsir  al Jassos
2.  Tafsir Ibnu al Arobi
3. Tafsir al Qurthubi