PERISTIWA ISRA MIRAJ NABI MUHAMMAD SAW

Isra Mi'raj atau Lailatul Mi'raj ialah malam perayaan ketika Rasululloh (SAW) naik ke surga. Isra' Mi'raj secara harfiah diterjemahkan sebagai Malam Pendakian. Ini merujuk kepada peristiwa Isra' dan Mi'raj ketika Nabi Muhammad (SAW) dibawa ke surga dari Masjidil Haram di Mekkah.

"Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha, yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguh nya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Surat Al-Isra:1)

Isra' Mi'raj atau Perjalanan Malam memiliki makna yang sangat penting dalam Islam. Malam tersebut adalah malam ketika Rasululloh (SAW) dibawa ke surga dan mengalami beberapa keajaiban di sepanjang perjalanannya.

Malam dimulai ketika Malaikat Jibril mendatangi Rasululloh (SAW). Suatu malam ketika Nabi Muhammad (SAW) sedang tertidur di Kabah, Malaikat Jibril muncul dan membersihkan hati dan perut beliau dengan Zam Zam. Kemudian ia membawa Nabi Muhammad (SAW) dari Masjidil Haram di Mekah menuju Masjid Al Aqsha di Yerusalem. 

Transportasi yang digunakan untuk perjalanan tengah malam ini adalah Burraq, seekor binatang yang menyerupai keledai putih. Sesampainya di Masjid Al Aqsha, Nabi Muhammad (SAW) menyadari bahwa semua nabi-nabi lain, sebelum beliau, sudah hadir disana. Di sinilah Nabi Muhammad (SAW) memimpin sholat seluruh nabi.

Selanjutnya, Malaikat Jibril membawanya ke surga. Di setiap tingkat, beliau bertemu para nabi dan menyapa mereka. Pada tingkat paling atas, beliau bertemu dengan Nabi Ibrahim (AS) yang sedang bersandar di pohon Lote.

PERISTIWA ISRA MIRAJ NABI MUHAMMAD SAW

Belajar tentang Isra Mi'raj dalam Quran

"Sedang dia berada di ufuk yang tinggi. Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi.  Maka jadilah Dia dekat (pada Muhammad SAW sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). Lalu Dia menyampaikan kepada hamba-Nya (Muhammad) apa yang telah Allah SWT wahyukan. Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. Maka apakah kaum (musyrik Mekkah) hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya? Dan sesungguhnya Muhammad SAW telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal, (Muhammad SAW melihat Jibril) ketika (bahasa Arab: سدرة المنتهى‎) Sidratul Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatan nya (Muhammad SAW) tidak berpaling dari yang di lihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguh nya Dia telah melihat sebahagian tanda tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.” (Surat An-Najm:7-18)

Pohon Lote mengacu pada Sidratil Muntaha yang merupakan pohon lote dalam Surga Jannah yang menandakan akhir dari langit ketujuh. Tidak ada yang bisa menyeberang titik ini. Nabi Muhammad (SAW) adalah satu-satunya yang diperbolehkan. Bahkan Malaikat Jibril tidak menemani beliau melewati titik ini.

Allah (SWT) menyatakan kepada Nabi Muhammad (SAW) bahwa semua Muslim harus sholat sebanyak 50 kali sehari. Ketika Nabi Muhammad (SAW) akan kembali, Musa (AS) mengatakan kepadanya bahwa 50 sholat terlalu banyak, sehingga Nabi Muhammad (SAW) memohon kepada Allah (SWT) untuk mengurangi jumlah sholat tersebut. Allah (SWT) mengurangi jumlah sholat wajib menjadi 45 tetapi Musa (AS) masih menganggapnya terlalu banyak sehingga akhirnya permohonan pada Nabi Muhammad (SAW) dikabulkan dan Allah (SWT) mengurangi jumlah sholat menjadi 5.

Pada perjalanan inilah sholat wajib 5 waktu (dalam sehari) diwajibkan bagi semua Muslim.

Ketika Nabi Muhammad (SAW) kembali dari Mi'raj dan menceritakan seluruh peristiwa tersebut kepada orang-orang, banyak dari mereka mengejek beliau dan mengatakan bahwa beliau sedang berbohong. Lalu beliau menggambarkan Masjid Al-Aqsha kepada orang-orang tersebut, cerita beliau diperkuat (dibenarkan) oleh para pelancong yang sudah pernah ke kota Yerusalem. Dengan demikian ini membuktikan bahwa Nabi Muhammad (SAW) berkata jujur, seperti biasanya.

Meskipun perjalanan ini memiliki makna keagamaan dalam Islam, Rasululloh SAW tidak pernah merayakannya dan beliau juga tidak pernah menyuruh umatnya untuk merayakannya.